Tuesday, 15 October 2013

Senja

Di ketika ini,
Saat hujan menitis,
saat mentari berlabuh,
Tatkala maghrib menjengah senja,
Dikala langit merah mula kelam seperti memanggil aku pulang,

Senja kian berlabuh,
Namun hujan masih lagi mencurah,
Sejuk hiba mencengkam kalbu,
Apakah sendu masih berlagu?

Aku menapak dalam gerimis,
Kebasahan dek hujan renyai tidak ku peduli,
hanya aku mahu tempat berteduh,
Untuk aku berlindung walau seketika cuma.

Saat ku berlari kesejukan,
Kaki tersadung dek kekhilafan,
Jatuh tersungkur, luka berdarah,
Pedih kini kian terasa.

Aku cuba bangkit,
Namun jelas aku terlalu sakit,
Seakan terdengar hilai tawa di kejauhan,
Apakah kealpaan ku ini suatu hiburan?

Aku masih menanti,
Namun tiada tangan yang dihulur,
Untuk cuba menarik aku agar bisa bangun,
Saat itu aku tersedar,
Mengapa aku harus menunggu?
Hidup ini punya waktu,
Manusia berkejaran berlumba-lumba ke hadapan,
Mana mungkin mereka akan menungguku,
Sedangkan yang lemah jatuh tersungkur,
Tiada siapa mahu ambil tahu,
Jika dihalang jalan mereka,
Dipijak, ditendang dan ditolak ketepi,
Menangisla air mata darah sekali pun, tiada siapa ingin mendengar rintihanku,
Karena engkau dan aku, bukan lagi seperti dahulu.

Roda Dunia

Hidup ini,
Memang perit,
Seperti permainan roda impian yang pernah ku tonton waktu kecil dulu,
Berpusing-pusing bagai menari,
Sedang yang lain bersorak memerhati.
Jika laju roda itu diputar,
maka lajulah ia bergetar,
Andai perlahan tolakannya,
Maka perlahan la gerak tarinya.
Seumpama juga roda impian,
Jika berhenti pada wang sejuta,
Maka bersoraklah penuh keriangan,
Seakan dunia ini kita yang punya,
Huh pada yang tidak kena masam mencuka.
Jangan kau fikir engkau sudah selesa,
Karena dipusingan seterusnya roda masih diputar,
Bila tiba giliran engkau,
Entah kemana destinasi roda itu berhenti,
apa mungkin pada "emas berguni" atau "muflis" yang menanti.
Apa engkau tidak belajar kisah pak kadok?
Sungguh hebat berpakaian baru,
Mahu mencabar ayam jantan sang raja,
Sehingga lupa perjanjian yang dulu, akhirnya menang sorak, kampung tergadai.
Usahlah kau tangis nasib diri,
Karena engkau juga yang meninggi diri,
Sungguh angkuh kau kesana kemari,
Mencanang perihal kehebatan diri sendiri.
Apa bisa kau ulang kembali,
Kata-kata janji yang kau lempar dahulu,
Karena aku masih tak bisa mengerti,
Apakah benar katamu yang dulu.
Apa kau lupa kesusahan mu dahulu?
Perlahan-lahan kau kayuh hingga jauh perjalananmu,
Apakah kau fikir kau sudah maju?
Jangan kau lupa kayuhan mu juga bisa lemah,
Mungkin bisa tertewas dek kerana lelah,
Usai senja menjelang tiba,
Aku hanya mengharap kau bisa cari jalan pulang.
****nukilanku***yen****

Manusia

Manusia
Sungguh pelik mereka ini,
Hari ini berkata lain,
Esok pula berkata lain.

Manusia,
Sungguh aneh kan mereka?
Hari ini mereka sayang,
Esok pula mereka buang.

Manusia,
Sungguh aku keliru,
Mengata mencaci sesama sendiri,
Dalam diam kamu taburkan duri,
Bagai melontar batu tapi tangan kamu sembunyi.

Manusia,
Sungguh aku kagum,
Kamu mencemuh rakan sendiri,
Tapi senjanya kamu maniskan muka pohon simpati.

Sungguh aku pening,
Memikirkan ragam manusia ini,
Galak sungguh menuding jari,
Tanpa sedar empat jari lagi menuding muka sendiri.

Sungguh angkuh mereka ini,
Bangga dengan kejayaan diri sendiri,
Saat memperlekehkan kejatuhan rakan sendiri,
Apa mereka lupa Allah yang turunkan rezeki?

Saat ini aku memikir sendiri,
Ah usah di risaukan nasib diri,
Lalu terdetik jugak di hati,
Fitrah hidup manusia memang begini.