Di ketika ini,
Saat hujan menitis,
saat mentari berlabuh,
Tatkala maghrib menjengah senja,
Dikala langit merah mula kelam seperti memanggil aku pulang,
Senja kian berlabuh,
Namun hujan masih lagi mencurah,
Sejuk hiba mencengkam kalbu,
Apakah sendu masih berlagu?
Aku menapak dalam gerimis,
Kebasahan dek hujan renyai tidak ku peduli,
hanya aku mahu tempat berteduh,
Untuk aku berlindung walau seketika cuma.
Saat ku berlari kesejukan,
Kaki tersadung dek kekhilafan,
Jatuh tersungkur, luka berdarah,
Pedih kini kian terasa.
Aku cuba bangkit,
Namun jelas aku terlalu sakit,
Seakan terdengar hilai tawa di kejauhan,
Apakah kealpaan ku ini suatu hiburan?
Aku masih menanti,
Namun tiada tangan yang dihulur,
Untuk cuba menarik aku agar bisa bangun,
Saat itu aku tersedar,
Mengapa aku harus menunggu?
Hidup ini punya waktu,
Manusia berkejaran berlumba-lumba ke hadapan,
Mana mungkin mereka akan menungguku,
Sedangkan yang lemah jatuh tersungkur,
Tiada siapa mahu ambil tahu,
Jika dihalang jalan mereka,
Dipijak, ditendang dan ditolak ketepi,
Menangisla air mata darah sekali pun, tiada siapa ingin mendengar rintihanku,
Karena engkau dan aku, bukan lagi seperti dahulu.
No comments:
Post a Comment
Thank you for your feedback